Kamis, 17 Agustus 2017

Sepeda

Sepeda
(Part 1)

"Ayah mau ke mana?" Aku bertanya dengan penuh harap. Berharap agar ayah mengajaku naik sepeda bersamanya. Ayah tak menjawab pertanyaanku, dia tersenyum menatapku, rupanya ayah cukup mengerti tentang apa yang ada dipikiranku. Mudah saja baginya menebak raut wajah penuh harap bocah laki-laki berusia lima tahun ini.

"Kamu mau ikut?" Aku tak menjawab pertanyaanya. Aku hanya bisa tertawa tanpa berkata. Setidaknya dengan tingkahku ini mampu meluluhkan hatinya. Aku ingin sekali naik sepeda berkeliling desa bersamanya.

Semenjak itu, aku tak perlu lagi bertanya kepada ayah. Jika ayah sudah menyiapkan sepeda jengki merk phoenixnya di depan rumah, maka aku langsung berlari mendekatinya. Ayah pun tahu maksudku. Seperti biasa ayah mengambil semacam kursi kecil sebagai tempatku duduk di muka. Ayah selalu memboncengku di depan, dengan kursi kecil yang diikatkan pada tulang kerangka sepeda. Di sana aku duduk dengan aman dan melihat dengan leluasa sepanjang perjalanan keliling desa.

Aku masih ingat saat pertama kali masuk sekolah dasar. Pagi-pagi sekali sepeda jengki merk phoenixnya telah bersih mengkilap di depan rumah. Tapi aku tak menemukan ayah di sana. Begitu juga dengan kursi kecil yang biasa ku duduki. Hatiku sudah resah, "Apakah ayah?" Ah! Aku mencoba menepis segala prasangka tanpa dasarku padanya.

"Sudah siap?" Suara itu mengagetkanku. Suara ayah yang sangat kukenal. Subhaanallah, ayahku rapi sekali. Kemeja biru blau yang ia kenakan nampak sangat licin. Dengan celana levis biru yang tak lagi baru namun juga rapi. Yang aku tahu itu hasil lembur tangan terampil ibuku.

Semalam kulihat ibu menyetrikanya dengan setrika besi tradisional berbahan bakar arang sebagai pemanasnya.
Sungguh gagah nian ayahku ini. Bak bujang desa mau kondangan di tempat pak lurah. Senyumku melebar, aku mengangguk semangat. Siap menyusuri pagi memasuki hari pertamaku ke sekolah dasar.

Hatiku sungguh riang tak terkira. Tak ada keraguan dan ketakutan sedikitpun untuk masuk lingkungan baruku, sekolahku, hari pertamaku. Ada ayah yang melindungiku. Ada ayah yang mengantarku, dan mengatakan "Anak ayah itu pemberani, anak ayah akan jadi anak yang pintar". Hanya itu, tapi senyumnya begitu meyakinkan. Senyum dengan balutan keringat lelah mengayuh sepeda. Senyum yang membuatku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak akan mengecewakanmu.

Setiap keringat yang kau teteskan, semoga menjadi amal baikmu. Setiap retakan di telapak kakimu semoga memudahkan langkahmu memasuki surgaNya. Dan setiap kerutan di wajahmu semoga selalu terselip dzikir yang membuatNya mencintaimu. Dan semoga setiap kapalan yang membekas di telapak tanganmu berbuah manis kelak bagi masa depan kami.

#sepeda #pelukissenja #monologruanghati #lilianatarataya

Mencari Mengikhlaskan


Lama sekali rasanya. Biasanya hampir setiap pekan aku melihat karya tulismu di media sosial, typografi yang dibuat oleh tangan telaten dengan perpaduan warna yang serasi. Bukan sekedar tulisan yang kau buat, tapi selalu ada pesan mendalam yang kau sampaikan di bawahnya. Selalu ada nasehat yang kau tulis bersamanya. Namun beberapa waktu ini semua itu menghilang bak ditelan bumi.

Untuk kamu yang tak pernah kutahu namamu
Melihatmu pun hanya tanpa temu
Benarkah kau menghilang?
Kemanakah bumi menelanmu?
Kemanakah angin bertiup membawamu?
Atau benarkah waktu telah membunuhmu?
Dimana pun kau berada
Semoga Tuhan melindungimu di sana

Aku memang kini mencari
Atau aku akan mengikhlaskan
Seperti doaku dulu di masa silam
Meminta Tuhan menjagamu dengan cara-Nya
Meminta Tuhan menjaga kita dalam ketaatan kepada-Nya
Jika ini adalah jawaban dari doaku dulu
Aku sungguh bahagia dan mengikhlaskanmu
Kini saat aku mencarimu, akupun mencari keikhlasan itu
Karena mengikhlaskanmu adalah mengikuti aturan Tuhan yang Maha Tahu.

#suratdariembun #lilianatarataya #monologruanghati #pelukissenja

Minggu, 11 Juni 2017

Aku memilih Menghormatimu

Aku memilih Menghormatimu

Aku bisa saja mengatakanya
Namun aku memilih diam seribu bahasa
Aku bisa saja melakukanya
Namun aku memilih tak berbuat apa-apa
Karena memang, itu belum waktunya 

Aku selalu mengatakanya
Aku selalu membisikanya
Tak pernah lupa menitipkanya
PadaNya, hanya padaNya
Di setiap sujud dan doa
Rindu dan cinta tercurah di sana
Agar Dia menyampaikanya
Pada hati dalam genggamanNya 

Hanya itu 
Cara yang benar menjagamu
Aku memilih menghormatimu
Dengan bahasa kalbu
Yang tak seorangpun tahu
Dan kamu pun tidak harus tahu
Hingga Tuhan yang Maha Tahu
Meridhoi kamu dan aku

Rabu, 31 Mei 2017

Monolog untuk Gadis Hujan

Monolog untuk Gadis Hujan
Teruntuk kamu, yang pernah ada dan memberi rasa. Terimakasih, untuk semua rasa, kebahagiaan dan kenangan yang pernah kamu berikan. Meskipun aku tahu, sekarang kamu dan aku bukanlah siapa-siapa, yang dulu pernah mesra sekarang nyaris tak pernah bertegur sapa. Yang dulu pernah saling menjaga, sekarang biasa saja seperti tak pernah ada apa-apa. 
Ini bukan salahmu ataupun salahku, ini pilihan. Saat kamu memilih meninggalkan dan mengakhiri, dan akupun menerima pilihan dengan berusaha melapangkan dada.
Kamu sekarang di sana, dengan kekasih baru yang yang kau damba dan mungkin selalu ada. Tidak sepertiku dulu, yang hanya mencintai dalam jauhnya jarak yang terbentang, mencintai dan menjaga lewat udara, menjaga dengan menjaga jarak diantara kita, itu menurutku lebih baik. Satu hal yang aku ingat dulu, kau memilih keputusan itu karena orang tuamu melarangmu berpacaran, aku terima itu, karena dulu akupun tak tahu hubungan kita berujung di pelaminan atau di ujung jalan. Tapi itu dulu, kamu tidak pacaran karena orang tuamu, namun sekarang semua kata-katamu seperti hanya penghibur dan alasanmu untuk mengakhiri ikatan semu diantara kita, atau mungkin keadaanya berbeda. Berbeda, karena orang tuamu sekarang merestui hubunganmu dengan kekasih barumu itu.
Terima kasih, semenjak kejadian itu akupun tahu dan sadar bahwa cinta yang pernah kamu hembuskan dulu kini lenyap bersama angin. Rindu yang pernah kamu  bisikan dulu kini lenyap bersama diam. Kehangatan yang kau dekapkan dulu kini beku bersama waktu. Dan yang terpenting, aku tahu bahwa Tuhan lebih menyayangiku, sehingga dia memisahkan kita. Tuhan memintaku memperbaiki diri, karena mungkin takdirku bukan denganmu. Tuhan menjauhkanmu dariku, karena Tuhan juga menyayangimu. Sungguh, semua tak ada yang sia-sia, dan ada pelajaran yang terdapat di dalamnya.
Sekarang, selamat berbahagia dengan kekasih barumu. Sekarang, mungkin kamu sibuk berbahagia dengan kekasihmu dan aku sibuk memperbaiki diriku menjemput kekasih hatiku. Kusibukan diriku mendekati Tuhan, menyambut kekasih hati terbaik yang disiapkan untukku. Kekasih hati yang kucintai dan mencintaiku karena Tuhan. Sekarang, aku sibuk menjaga diriku agar tidak jatuh pada cinta yang sementara, sedangkan kamu sibuk menjaga dan dijaga oleh kekasihmu. Sekali lagi terimakasih, kebahagiaan tak selamanya dengan tawa dan kesedihan pun tak selamanya dengan tangis. Berbahagialah kamu denganya, jangan ulangi kesalahanmu dulu. Dan doakan aku menyibukan diri berbahagia mendekati Tuhan yang maha cinta. Terima kasih gadis hujan.


Kamis, 25 Mei 2017

Sebenarnya Rindu

Sebenarnya Rindu

Hai malam...
Apakah kau pernah merindukan siang?
Jika itu terlalu berlebihan
Apakah kau pernah mengenal
Atau sekedar mendengar tentang siang
Kenapa diam?
Apakah ada yang sedang kau pendam?
Baiklah, gelapmu sudah cukup mengatakan
Bahasa rindu yang tak terungkapkan

Hai siang...
Apakah kau mengenal malam?
Sebab kutanya malam
Dia hanya diam dan muram
Seperti malam dan juga bungkam
Memendam teka-teki dalam diam

Hai malam.... hai siang....
Kini aku yang terdiam
Dan aku tahu yang membuatmu bungkam
Rindu terpendam yang teramat dalam
Yang hanya tertahan dalam diam
Terpenjara dalam bungkam

Bolehkah aku bertanya?
Apakah ini rindu sebenar-benarnya rindu?
Bagaimana kalian merindu?
Sedang siang dan malam tiada pernah bertemu
Sungguh ini sebenar-benarnya rindu
Bukan berujung pada bertemu
Namun keabadian berdampingan

Kini aku mengerti
Arti rindu, sebenar-benarnya rindu
Saling berbisik dalam doamu
Bukan dengan hanya bertemu
Namun dipasangkan dengan abadi
Bukan menemukan tapi saling menggantikan
Itu rindumu
Siang dan malam
Saling menjaga dan tiada bertemu