Minggu, 19 November 2017

Ammi


            Gadis itu duduk di bangku taman. Bangku yang terbuat dari besi itu sudah tampak lusuh karena warnanya yang mulai pudar. Kakinya disilangkan, sedangkan kedua tanganya memegang sesuatu yang menjadi favorit dan menjadi hobinya. Membaca novel. Tanganya memegang novel best seller yang baru saja dibelinya. Lembar demi lembar setiap paragraf tak luput dari pandangan matanya. Telunjuknya bergerak mengikuti kalimat yang dibacanya. Rambutnya dibiarkan terurai melambai dibelai angin. Sesekali tanganya membenarkan posisi kacamata yang melorot bertengger di hidungnya.
            Wajahnya nampak sangat serius. Ya, memang seperti itulah dia kalau sedang asik membaca novel. Tak ada yang bisa mengganggunya. Hanya sesekali senyumnya tersungging menyiratkan tentang apa yang sedang dibaca.
            Aku mengamatinya dari bangku yang kebetulan berada berseberangan dengan bangku tempat ia duduk. Tanganku masih asik dengan buku gambar dan pensil. Goresan-goresan pensilku telah berhasil memindahkan sosoknya ke atas kertas buku gambarku. Tak mau kalah, aku pun tersenyum simpul pada sketsa di buku gambarku. Aku tidak terlalu hobi membaca seperti Ammi. Ya, gadis yang tadi kuceritakan bernama Ammi. Aku lebih suka mendengarkan cerita tentang apa yang dibacanya. Sebagai imbalanya, aku memberikan hasil visualku melalui goresan pensil di atas buku gambarku. Dan itulah yang membuat kami selalu bisa bertemu, meskipun dengan hobi yang berbeda.
            “Gambar yang bagus” entah sejak kapan Ammi sudah duduk di sampingku. Mengamati sketsa dirinya yang hampir kuselesaikan. Aku yang terlalu asik seringkali tidak menyadari kehadiranya. Ya, melukisnya, membuat sketsa di atas buku gambarku, itu adalah sesuatu yang membuatku semakin hidup. Ammi selalu hidup dalam setiap karyaku.
            Sejenak ku perhatikan ekspresi muka gadis di sampingku ini. Dia tersenyum, manis sekali. “Sudah selesai” aku tersenyum sendiri, ah bukan–lebih tepatnya aku tersenyum pada buku gambarku dan Ammi di sampingku. “Jadi bagaimana cerita dari novel barumu itu Am?” tanyaku memulai obrolan.
            Ammi bercerita panjang lebar tentang novel yang baru saja dibacanya. Meskipun terkadang itu bukanlah sesuatu hal yang menarik perhatianku, karena aku lebih tertarik melihatnya, saat dia sedang bercerita. Ammi dengan buku-buku, novel dan hobinya membaca. Aku dengan buku gambar, pensil dan sketsa Ammi. Kedua hal itu saling bertukar ketika kami akan berpisah dan berjanji untuk bertemu lagi. Dari buku, novel dan juga sketsa. Seringkali kutuliskan pesan rahasia yang kuselipkan di bukunya, tentunya tanpa sepengetahuanya.

            “Ammi, buka dan baca halaman 60 dan ku harap kamu menyukainya”

Taman Lavia



            Panji melangkah perlahan memasuki kerumunan itu. Taman Lavia, tempat itu kini dipenuhi oleh orang-orang dari seluruh penjuru kota di negeri ini. Pesta malam purnama sedang belangsung. Sesuai dengan tradisi yang berlaku di negeri ini, semua yang datang di pesta purnama tidak boleh menampakan identitasnya. Sebagai salah satu aturanya yaitu mereka harus menggunakan topeng. Topeng dengan bulu warna-warni menghiasi di bagian atas mata topeng. Begitu juga dengan Panji, dia tidak lupa mengenakan topeng hitam dengan bulu warna biru menghiasi bagian atas matanya. Tuxedo hitam yang ia kenakan membuat penampilanya semakin elegan. Namun tidak dengan ekspresi wajahnya yang kini nampak gelisah. Ada yang sedang dicari.
            Shit, ramai sekali. Kalau begini situasinya, bagaimana aku bisa menemukanya, rutuk Panji dalam hati. Panji terus berjalan menembus kerumunan orang yang begitu riuh. Meski gelisah, matanya tetap fokus menyapu seluruh wajah yang dilihatnya, berharap segera menemukan apa yang dicarinya sejak tadi. Tiba-tiba langkahnya semakin pelan bahkan seketika berhenti. Kini panji tepat berada di tengah kerumunan di Taman Lavia saat matanya menangkap sesosok yang membuatnya terpaku. Matanya tak henti menatap, tegak lurus tepat tertuju pada air mancur di tengah Taman Lavia.
            Itu dia, batin Panji sedikit lega. Tersungging senyuman miring dari bibirnya. Kini dia kembali melangkah mendekati air mancur. Namun ternyata bukan air mancur yang ditujunya, melainkan sosok wanita yang begitu anggun berdiri di dekat air mancur.
            “Lavia” ucapanya begitu lirh memanggil wanita yang kini menoleh padanya.
            Seketika hening, wanita yang dipanggil Lavia itu tak menjawab. Topeng merah hati dengan bulu-bulu putih mencoba menutupi siapa sosok di balik topeng itu. Namun tidak bagi Panji yang begitu mengenali sosok Lavia bahkan di balik topeng sekalipun. Matanya kini menatap begitu tegas hingga mata dua sejoli itu kini bertemu dalam jarak yang hanya sepersekian centimeter saja. Senyuman pun tak dapat di bendung lagi, mengalir diantara keduanya. Entah seiapa yang memulai, kini dua sejoli itu telah menyatu dalam pelukan kerinduan yang begitu hangat. Sangat erat mereka berpelukan, mengabaikan pandangan dari keramaian orang yang ada di taman itu.
            Teng ... teng ... teng .... suara lonceng menara yang ada di taman telah berbunyi. Ini adalah waktu yang dinanti-nanti oleh semua orang yang ada di Taman Lavia. Ya, lonceng itu selalu berbunyi secara otomatis saat malam purnama. Entah apa yang membuat lonceng itu berbunyi secara otomatis, yang pasti, bunyi lonceng itu pertanda pesta akan segera usai dan akan ditutup dengan pesta dansa.
            Seketika semua orang yang ada di Taman Lavia sudah berpasang-pasangan dan mulai berdansa. Begitu juga dengan Panji dan Lavia yang kini berdiri berhadapan. Perlahan tangan Lavia melingkar di atas bahu Panji, dengan otomatis tangan Panji memeluk pinggang Lavia. Dalam hitungan detik dua sejoli ini juga mulai berdansa mengikuti alunan musik. Kedua pasang mata itu saling bertatapan mesra di balik topeng yang berbulu yang dikenakan keduanya. Tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Malam ini menjadi milik mereka berdua meskipun pada kenyataanya ribuan orang asing memenuhi pelataran Taman Lavia.
            Teng... teng... teng... suara lonceng kembali berbunyi ketika jarum jam pada menara menunjukan tepat pukul dua belas malam. Seketika itu alunan musik terhenti, begitu juga dengan pesta dansa yang dari tadi berlangsung.
            Nampaknya suara lonceng itu juga menghentikan dan juga melepaskan pelukan Panji dan Lavia. Sial, kenapa begitu cepat! Panji kembali mengutuk dalam hati. Matanya kini menatap tajam pada jam tangan yang ia kenakan.

            Seulas senyuman yang dipaksakan tersungging dari bibir Panji. “Aku harus pergi Lavia, kita akan bertemu lagi saat purnama tiba” Panji kembali tersenyum meyakinkan pada Lavia bahwa dirinya akan kembali menemuinya saat purnama tiba. Saat pesta dansa bulan purnama di Taman Lavia.

Minggu, 10 September 2017

Senyuman di atas Gelas

Senyuman
diatas Gelas

            Jumat, menjadi hari menggembirakan untuk para pekerja dimana hari itu adalah hari menjelang akhir pekan. Beberapa instansi pada umunya hanya aktif sampai hari jumat. Maka berbahagialah bagi mereka yang pada hari jumat merupakan hari terakhir bekerja dan libur akhir pekan pada hari Sabtu – Minggunya.
            Jumat, pukul 15.30 dimana orang – orang mulai hilir mudik pulang dari kantor tempatnya bekerja. Sama halnya dengan Rafa, sepulang dari kantor tempatnya bekerja dia bergegas menuju kedai kopi langgananya. Hal ini sudah menjadi kebiasaanya setelah pulang kerja terutama di akhir pekan. Suasana sore biasa dihabiskanya dengan bersantai dengan secangkir kopi dan menikmati senja di pinggiran kota.
            Suasana kedai kopi sore ini masih sepi, sehingga Rafa leluasa memilih tempat duduk yang dia sukai. Di sudut ruangan dekat jendela, dimana dia bisa menikmati kopi dengan hilir mudik orang dan kendaraan yang berlalu lalang.
Capucino panas, jenis minuman ini selalu ia nikmati di hari jumat. Bukan tanpa alasan, namun ada hal yang sedang dia tunggu bersama secangkir capucino.
"Aku tunggu di tempat biasa", Rafa mengirim chat Line dan foto secangkir Capucino.
Di sudut ruangan Rafa duduk memandangi luar ruangan. Sedangkan mulutnya asik menikmati capucino. Matanya menerawang mencari sosok yang ditunggunya. Tanpa sadar lamunanya mengantarkan pada saat sebulan yang lalu di kedai kopi ini. Saat pertama dia berjumpa dengan sosok manis bersama secangkir kopi.
Jumat yang sama satu bulan yang lalu di kedai kopi ini. Rafa bergegas masuk berteduh di kedai kopi ini. Dia memesan secangkir capucino sembari menunggu hujan reda. Suasana kedai cukup ramai, mungkin karena hujan sehingga banyak yang singgah sembari menikmati kopi menunggu hujan reda. Hampir semua bangku terisi oleh pengunjung. Pandangan Rafa menyapu seluruh sisi ruangan hingga matanya berhenti di satu titik sudut ruangan. Satu kursi kosong, tepatnya meja dan sepasang kursi. Satu kursi kosong dengan pasangan kursi yang telah ditempati pengunjung. Seorang perempuan yang seusia dengan Rafa sedang asik menikmati kopi. Tak ada pilihan lain, Rafa bergegas menuju sudut ruangan dimana kursi kosong itu berada.
“Permisi, boleh duduk disini ?”
“Oh, iya silahkan. Kebetulan nggak ada yang nempatin.”
“Beneran ? Nggak ada yang lagi ditunggu?”
“Iya serius, lagian aku cuma berteduh sambil iseng nyoba kopi disini.”
“Terimakasih”
Rafa duduk di kursi sudut ruangan. Tanpa disengaja bersama seorang sosok manis di matanya. Mulutnya asik menikmati capucino yang dia pesan. Sedangkan sosok perempuan yang belum dikenalnya ini menikmati kopi sembari melihat suasana di luar jendela. Cukup kaku untuk dua orang yang baru bertemu, satu tempat tapi tak bicara. Setidaknya Rafa harus memulai mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku.
“Suka ngopi disini?”
“Ah, iya maaf  gimana?” Nampak kaget dengan pertanyaan Rafa
“Iya, kamu suka ngopi disini?”
“Sesekali aja sih kalo pulang kerja. Kebetulan tadi hujan, jadi sekalian mampir kesini. Kalau kamu?”
“Aku. Iseng aja tadi berteduh karena hujan. Sekalian nyobain kopi disini.”
“Aku Riana, boleh tahu namamu?”
“Panggil saja Rafa, dan ternyata inisial nama kita sama. Kebetulan yang menarik” Rafa tersenyum mencoba membuka obrolan.
Riana hanya tersenyum mendengar basa – basi Rafa yang mencoba mencairkan suasana. Senyumnya mengembang lebar, manis, semanis capucino dalam gelas. Renyah, senyumnya terus merekah di atas gelas kopi warna putih. Sebuah pemandangan indah di sore hari. Bagai pelangi yang muncul setelah hujan. Keindahanya terlukis diatas gelas kopi yang dipegangnya.
“Pertemuan ini tanpa sengaja. Sebuah kebetulan karena hujan sehingga kita bertemu disini. Apakah kita bisa bertemu lagi?” kata Rafa mencoba kembali membuka obrolan.
Riana tersenyum. Dan lagi senyuman itu merekah indah diatas gelas kopi ditanganya. Kata – kata yang ingin dia ucapkan tertahan bersama kopi yang kemudian ditelanya. Masih tanpa kata Riana menggerakan alisnya, mencoba mengisyaratkan apa yang akan diucapkanya.
“Jika besok, atau akhir pekan depan kembali hujan, mungkin kita bisa bertemu lagi disini. Dan mungkin akan selalu bertemu tanpa alasan dan tanpa hujan” jawab Riana
“Jadi, Jum’at di jam yang sama, di tempat yang sama”
“Ya. Kamu bisa menungguku dan bisa jadi Aku menunggumu” kata Riana dengan kembali tersenyum.
Rafa dan Riana melanjutkan obrolanya. Dekat dan semakin akrab meskipun mereka baru saja berjumpa. Kopi menjadi pembuka perkenalan mereka. Mengantarkan pada janji untuk saling menunggu dan bertemu. Dari secangkir kopi dan senyum diatas gelas.
#
“Kali ini Kamu yang menungguku, dan Aku mencarimu meski meja yang dipesan tak pernah pindah” Suara itu menyadarkan Rafa dari lamunanya. Suara yang sangat dikenalnya, dengan kata – kata khas. Ungkapan dengan kiasan yang lagi – lagi harus dipahami sebelum menjawabnya.
Senyuman Riana menyambut penantian Rafa di sore ini. Penantian bersama secangkir capucino. Bagi Rafa menunggu Riana sama halnya dengan menikmati secangkir capucino. Tidak bisa diminum sekali habis, tapi harus bersabar agar nikmatnya terasa lama. Pelan – pelan di seruput, harumnya pun harus dinikmati. Begitulah penantianya untuk Riana, dinikmati dalam secangkir capucino.
“Nungguin kamu itu nggak ada bosanya, seperti menikmati capucino ini” Jawab rafa dengan gaya bahasa yang khas bahwa penantianya untuk Riana tidak ada bosanya.
“Analogimu masih sama dengan minggu lalu Rafa , hehe. Oh iya bagaimana aktifitasmu minggu ini?”
“Masih sama, ya masih sama seperti dulu, masih selalu menunggumu Riana. Dan ,… minggu ini menjadi minggu yang cukup padat untukku. Ditambah lagi ditempat kerjaku ada HRD baru, sehingga harus banyak penyesuaian. Jadi, bagaimana dengan seminggu aktifitasmu Riana?”
“Ya. Seminggu ini sibuk dengan tugas – tugas ujian mahasiswaku. Sibuk karena harus mengoreksi jawaban ujian dan merekap nilai selama satu semester. Beberapa hari begadang dan masih ditemani secangkir kopi”. Lagi kata – katanya diakhiri dengan senyuman.
“Setiap jumat pun masih sama, saling menunggu atau mencari. Ditempat yang sama dan di meja yang sama. Dengan kopi yang sama. Tapi dengan cerita yang berbeda” kata Rafa sembari menyeruput capucino di cangkirnya. Kata – katanya kembali disambut dengan senyuman dan gerakan alis Riana yang seringkali tidak mudah dimengerti oleh Rafa. Begitu terus berlanjut obrolan di sore itu. Mereka selalu bertemu di hari jumat sore sekedar menikmati kopi dan menghabiskan suasana sore. Bertukar cerita selama satu minggu yang telah mereka lewati.

Dari secangkir kopi Tuhan mempertemukan. Dari secangkir kopi saling berjanji. Dari secangkir kopi mengembang senyum manis diatas gelas. Senyuman yang membuat penantian tiada bosan. Senyuman yang membuat akhir pekan semakin menyenagkan. Senyuman diatas gelas yang menghapus lelah menjadi sebuah ketenangan. Akan terus seperti itu. Seperti pelangi setelah hujan. Datangnya sekejap tapi akan terus berulang seperti senyummu yang akan selalu kunanti setiap akhir pekan.

Jumat, 25 Agustus 2017

Di Balik Kaca

Di Balik Kaca
Oleh : Sidik Aryono

If I got locked away
And we lost it all today
Tell me honestly, would you still love me the same?
If I showed you my flaws
If I couldn't be strong
Tell me honestly, would you still love me the same?........
            Suara lagu itu masih terus mengalun di telinganya yang disumpal dengan earphone. Komat-kamit samar terlihat bibirnya mengikuti lirik lagu yang sedang didengarnya. Tangan kananya dijejalkan ke saku celana jeans yang sekarang sudah nampak lusuh. Sedangkan tanganya yang sebelah kiri menepuk-nepuk paha mengikuti alunan lagu.
            Lili berjalan memasuki rumah mewah yang memang sudah tidak asing baginya. Tak ada yang berubah, masih sama seperti dulu,gumamnya dalam hati. Kakinya terus melangkah tegas melewati ruang tamu. Sofa yang ditata rapi dengan meja kaca serta bunga lili menghiasinya. Perlahan bibirnya menyunggingkan seulas senyuman melihat bunga lili di atas meja kaca. Hanya sekejap, Lili melanjutkan langkahnya meninggalkan bunga lili dan ruang tamu yang sepi. Langkahnya tak lagi tegas. Kakinya diseret dan sesekali terhenti. Tubuhnya kini memaku tanpa ekspresi. Matanya yang bulat itu kini memandang kedepan dengan tegas. Pandangan tajam pada sesuatu yang kini menarik perhatianya.
            Kotak persegi panjang dengan tinggi dua meter itu kini terpampang di hadapanya. Kaca yang transparan memudahkanya melihat ke dalam isi kotak tersebut. Lili masih terdiam membeku, tak ada ekspresi dari wajahnya. Kakinya seperti mengakar kuat pada lantai yang dipijaknya. Tangan kananya masih tetap bersarang di saku celana. Sedangkan tangan kirinya tak lagi berdendang menepuk-nepuk paha, membeku seperti tubuhnya sekarang ini. Perlahan Lili mengerjapkan matanya, mencoba memperjelas apa yang sedang dilihat di hadapanya. Alunan musik di telinganya berhasil diabaikan. Meskipun begitu, tubuhnya masih diam, membeku menyatu dengan kesepian yang mulai menyelimuti dirinya.
            Lili mengeluarkan tangan kanan dari saku celananya. Perlahan tangan kananya itu diangkat hingga kini telah meraba kaca yang menghalangi antara dirinya dan apa yang ada di dalam kotak berselimut kaca tersebut. Kini wajah yang sedari tadi kaku telah menyunggingkan seulas senyuman. Sementara tanganya masih meraba kaca di hadapanya. Perlahan bergerak meraba kaca transparan itu, mencoba merasakan apa yang ada dibalik kaca. Mata sayup itu menatap dalam mengikuti gerakan tangan yang masih meraba-raba.
            Lili menghentikan gerakan tanganya pada salah satu benda yang ada di balik kaca itu. Matanya memandang semakin tajam. Nafasnya dihembuskan perlahan seperti melepaskan beban di tubuhnya itu. Benda ini, gumam Lili dalam hati. Tanganya mencoba merapa benda di balik kaca itu. Sesuatu yang kini membuat otaknya mengerucut. Memori-memori pendek berputar perlahan di otaknya. Tubuhnya kini semakin kaku, seakan benda yang ada di balik kaca itu menghipnotisnya.
            Gadis itu masih terdiam di hadapan sebuah kotak persegi panjang dengan tinggi dua meter itu. Ruangan yang sepi turut menambah keheningan. Kotak di hadapanya itu berhasil mengantarkan pada beberapa masa lalunya. Ya, lemari itu menyimpan banyak benda yag dirawat dan di simpan di balik kaca. Benda-benda yang kini membawa Lili pada masa remajanya. Biola kesayanganya tersimpan rapi di sana, di dalam lemari kaca bersama kenangan-kenanganya.
            ***
            Suara tepuk tangan terdengar riuh bergema di dalam auditorium sekolah. Seorang gadis berusia sekitar 16 tahun berdiri di atas panggung mengenakan gaun putih selutut. Rambutnya dibiarkan terurai dengan bandana putih melingkar di kepala. Senyumnya mengembang semakin lebar, gigi putih terlihat mengintip di sela-sela bibirnya. Matanya berbinar hampir berkaca-kaca. Kedua tanganya memeluk biola yang baru saja dimainkan. Sekejap kemudian dia menundukan badan sebagai penghormatan kepada audience. Kemudian gadis itu berjalan menuju ke belakang panggung diantarkan dengan tepuk tangan yang kembali riuh.
            “Keren banget, penampilan kamu barusan keren banget Li, sumpah deh!” seru Hanna menyambut Lili yang baru saja turun dari panggung.
            Lili hanya tersenyum manis mendengar pujian dari sahabatnya itu. Namun dia berjalan nyelonong begitu saja melalui Hanna. Langkahnya tertuju pada bangku di belakang panggung tempatnya menunggu giliran tampil tadi. Hanna yang merasa diabaikan oleh Lili mendengus kesal dan kemudian menyusul Lili.
            “Oke oke, kamu udah kaya violinist terkenal dan professional. Turun dari panggung hanya tersenyum dan mengabaikan orang yang pertama kali menyapamu.” Hanna berdiri di depan Lili dengan tangan berkacak pinggang. Guratan kekesalanya pada sahabatnya itu masih jelas terlihat di wajahnya. Namun lagi-lagi Lili hanya tersenyum melihat ulah sahabatnya itu. Lalu …
            “Kenapa kamu jadi uring-uringan begitu Hanna. Kamu nggak tahu betapa sulitnya aku harus mengontrol muka yang grogi setengah mati ini. Ya, meskipun hasilnya cukup memuaskan” tanganya segera merogoh tas yang ada di sampingnya. Sekarang botol berisi air mineral itu sudah ada di tanganya, siap meluncur membasahi tenggorokkanya yang kering seperti dilanda kemarau panjang.
            Memang ini adalah penampilan perdana Lili untuk menunjukan kebolehanya dalam memainkan biola. Sebelumnya dia sangat rajin berlatih,  meskipun hal itu dilakukanya diam-diam namun sangat teratur. Alhasil, sekarang dia cukup puas dengan penampilan perdananya. Meskipun demam panggung masih menggerayangi dirinya saat membawakan permainan biolanya. Hal itu nampak jelas, terlihat dari keringat yang kini masih bercucuran dan terus bermunculan sebesar biji jagung membasahi kening perlahan mengalir hingga ke leher.
            Hanna yang masih kesal hanya terdiam di samping Lili. Tanganya bersedekap di depan dada. Namun sebenarnya dia tidak sekesal itu. Hanya saja, dia merasa diabaikan oleh sahabatnya yang sedang memulai menjadi violinist ini. Ya, Hanna memang sengaja menemani Lili dan memberi semangat penuh kepada sahabatnya itu. Sedangkan kedua orang tua Lili tidak tahu menahu mengenai hal ini.
            “Jadi kamu ngambek nih Han? Masa gitu aja ngambek. Hanna kan sahabat yang paling baik, cantik, setia dan tidak sombong” hibur Lili seraya merayu
            “Terus rajin menabung, ramah tamah, murah senyum bla bla bala… seperti biasanya Lili pandai merayu” lanjut Hanna.
            Hening sejenak. Kemudian kedua gadis itu berpandangan. Tak kuasa melihat mimik wajah satu sama lain kemudian mereka berdua tertawa tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya. Sesaat kemudian mereka berpelukan. Ya, hal itu memang sudah biasa terjadi antara Lili dan Hanna.
***
            Lili melangkah melewati pagar rumahnya yang tidak di kunci. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri akhirnya dia berlari menjinjit menuju pintu rumahnya. Tanganya pelan-pelan memegang gagang daun pintu berwarna keemasan. Perlahan diputar gagang pintu itu dan… klik, bagus nggak dikunci, gumam Lili. Dibukanya perlahan daun pintu berwarna putih nan lebar itu. Dengan posisi memunggungi, Lili memasuki rumah dan dirinya kini lenyap dibalik pintu. Lalu kemudian…
            “Lili, darimana saja kamu!” suara itu terdengar jelas. Suara dari orang yang begitu dikenalnya. Suara ayah. Seketika tubuh Lili membeku. Tubuhnya menghadap pintu dengan tangan masih menggenggam gagang pintu. Seketika gagang pintu terasa menyatu dengan tanganya. Badanya terasa membatu, tak bisa digerakan dan begitu kaku. Bibirnya juga kelu tak bisa berkata sepatah katapun. Matanya dipejamkan kuat-kuat membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya. Oh Tuhan, sejak kapan ayah berada di sana. Dia pasti akan sangat marah. Dia pasti marah kalau…
            “Liliana, jawab pertanyaan Ayah” Lili kembali tersentak mendengar nada suara ayah yang sepertinya sangat marah. Perlahan Lili memberanikan diri membalikan badan. Dengan pandangan mata tertunduk dia mulai menyeret kakinya mendekati suara ayahnya berasal. Dia sudah sangat hafal. Ayahnya sekarang sedang duduk di ruang tamu menunggu kepulanganya. Namun Lili tidak berani membayangkan wajah ayahnya yang sedang penuh amarah.
            “Tidak pantas, jam segini anak perempuan baru pulang” masih dengan nada tinggi ayahnya berbicara. Sesekali mata laki-laki itu menatap jam taganya. “Kamu main biola lagi? Ayah sudah bilang berapa kali sama kamu, menjadi pemain biola itu tidak punya masa depan yang cerah. Kamu harus belajar yang rajin. Sebentar lagi ujian kelulusan dan kamu akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Kamu harus jadi dokter, melanjutkan cita-cita Ayah.” Nyaris tanpa jeda perkataan ayahnya tak mampu dibantah oleh gadis itu.
            “Tapi ayah…”
            “Tidak ada tapi-tapian! Pokoknya kamu harus masuk kuliah kedokteran titik!” Ayahnya kini berdiri memandang anaknya dengan penuh amarah, karena anak satu-satunya itu mencoba membantah perkataanya.
            “Ayah egois. Ayah nggak mikirin Lili. Ayah cuma mentingin diri sendiri. Lili juga berhak memilih jalan hidup Lili Ayah” pipinya kini memanas. Matanya berkaca-kaca hingga sedetik kemudian air matanya mengalir membasahi pipi halusnya.
            “Kamu nggak tahu apa apa Lili. Turuti saja kata Ayah. Itu yang terbaik dan nggak ada tapi-tapian. Sekarang cepat masuk kamar!” Ayahnya kembali membentak gadis itu. Tanganya diacungkan menunjuk ke arah kamar Lili.
            Air matanya masih mengalir. Bibirnya bergetar seperti mengucapkan sesuatu namun tidak terdengar sama sekali. Bahkan, dia pun tidak yakin bahwa dia telah mengucapkan kata-kata. Dengan tangis yang masih sesenggukan Lili berlari menuju kamarnya. Tanganya memeluk biola kesayanganya itu. Memeluk rasa sesak dan kepedihan yang kini menyelimuti hatinya.
            Bayangan lili menghilang di balik pintu kamar, meninggalkan sosok laki-laki di ruang tamu yang baru saja membentaknya hingga menangis sesenggukan. Namun bagi sang ayah itulah yang terbaik. Dia tidak mau mimpi buruknya terulang, cita-citanya untuk menjadi dokter harus diwujudkan oleh putri semata wayangnya itu.
            ***
            “Non Lili udah pulang?” Entah sejak kapan perempuan berusia lima puluh tahunan sudah berada di dekat Lili. Sedangkan Lili masih terdiam memandangi biola yang tersimpan di balik lemari kaca.
            Lili masih diam tak bergerak. Matanya memandang begitu dalam pada biolanya itu. Angan-anganya kini melayang ke masa lalu. Karena lamunanya itu, dia tidak sadar sedang diperhatikan oleh perempuan yang teryata adalah Bi Inah, pembantu di rumahnya.
            “Non” panggil Bi Inah kedua kalinya, menyentuh lengan Lili yang masih meraba kaca lemari itu.
            Lili sontak kaget tersadar dari lamunanya. Sekejap pandanganya terlalihkan pada sosok Bi Inah yang berada di sampingnya. Oh Bi Inah, gumam Lili. Rasa terkejutnya sedikit reda setelah tahu sosok yang ada di sampingnya itu. Disunggingkan seulas senyuman menutupi rasa terkejutnya yang belum mereda.
            “Eh bibi, ngagetin aja” sahut Lili kemudian.
            Bi Inah tersenyum memperhatikan Lili yang begitu dalam memandangi biola di dalam lemari itu . “Bibi yang menyimpanya di Lemari. Dan tentunya Ayah non Lili yang meminta bibi untuk menyimpanya. Jadi nggak ada salahnya bibi menyimpanya di lemari ini, sekalian untuk hiasan non” kata Bi Inah menjelaskan dengan logat Tegal yang begitu medok.
            “Terimakasih Bi, biola itu sangat berarti buat Lili. Banyak kenangan dan cerita bersamanya” senyumnya kembali merekah. “Oh iya bi, ayah sama bunda dimana ?” tanya Lili kemudian.
            “Tuan sama nyonya sedang pergi ke acara sahabatnya. Mungkin sebentar lagi pulang. Non Lili istirahat dulu aja, pasti capek abis perjalanan jauh. Bibi udah nyiapin kamarnya buat Non”
            “Baiklah bi kalau begitu, Lili mau istirahat dulu. Kalo Ayah sama Bunda udah pulang kasih tahu Lili ya” pesan Lili pada Bi Inah.
            “Baik Non” Bi Inah tersenyum mengiyakan. Sekejap kemudian Lili melangkah meninggalkan Bi Inah di ruang tamu. Bayanganya kini segera menghilang di balik pintu kamarnya.
            ***
            “Lili udah pulang Bi?” tanya seorang laki-laki yang baru saja memasuki rumah mewah itu. Dia adalah ayah Lili.
            “Sudah tuan, non Lili sedang istirahat di kamarnya. Biar saya bangunin dulu …” belum sempat Bi Inah menyelesaikan kalimatnya…
            “Tidak usah Bi, biarin dia istirahat. Nanti saya yang bangunin Lili” kata sang majikan. Sedangkan Bi Inah menurut saja hingga kemudian meminta izin untuk melanjutkan pekerjaanya di dapur.
            ***
            Di kamar Lili.
            Gadis itu tergeletak di atas tempat tidur. Posisinya meringkuk dengan handpone masih digenggamnya. Kepalanya pun tidak beralaskan bantal, jelas dia kelelahan sampai ketiduran seperti itu. Sepatu dan kaos kakinya masih melekat erat di kakinya. Begitupun dengan baju dan celananya, masih sama seperti yang digunakan saat di ruang tamu tadi. Begitu tenang, tubuhnya tak bergerak sama sekali. Lili terlalu lelah hingga tertidur pulas seperti itu.
            Klik. Terdengar suara pintu kamar terbuka dari luar. Kamar Lili memang sengaja tidak dikunci. Suara itu sama sekali tidak mengusik tidur gadis itu. Sepasang suami istri muncul dari balik pintu memasuki kamar Lili. Ayah dan Bunda. Perlahan mereka memperhatikan putrinya yang sedang tertidur di atas ranjang. Sesaat kemudian mereka saling berpandangan. Seperti mengisyaratkan keduanya pun saling tersenyum. Akhirnya sepasang suami istri tersebut berjalan mendekati ranjang tempat diamana Lili sedang tertidur pulas. Mereka duduk di pinggir ranjang, tepat di belakang Lili yang meringkuk memunggungi mereka.
            Hening. Ayah dan bunda tak saling bicara. Mata mereka tertuju pada satu arah, pada anak mereka yang sekarang sedang tertidur pulas. Seakan segan membangunkan anaknya yang sedang dalam kelelahan itu. Perlahan bunda mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih sayang, membelai rambutnya dengan lembut. Tersungging senyuman dari bibirnya itu. matanya berbinar memandang putri yang sudah cukup lama tak dilihatnya.
            Bunda, batin Lili. Dia merasakan ada yang sedang membelai dan mengusap kepalanya. Meskipun masih dengan mata terpejam dia cukup mengenali sosok yang ada di sampingnya itu. Bunda. Perlahan matanya dibuka dengan malas. Tubuh lelahnya itu digerakan berbalik ke arah sang bunda yang sedang memandanginya. Masih dalam posisi terbaring, bibirnya tersenyum saat dilihatnya sang bunda juga sedang tersenyum memandanginya. “Bunda” Lili segera bergegas bangkit dan memeluk sang bunda. Begitu juga bunda balas memeluk anaknya dengan hangat, tanganya perlahan mengusap punggung putrinya itu.
            “Lili kangen sama Bunda” suaranya terdengar lirih dan manja. Keduanya masih saling berpelukan. Sedangkan sang bunda hanya tersenyum dan masih mengusap punggung putrinya yang merengek seperti anak kecil. Lili menyandarkan dagunya pada bahu sang bunda. Perlahan mengerjapkan mata dan menangkap sosok yang berdiri di depan matanya, di belakang sang bunda.
            “Ayah” mata Lili masih berbinar mamandang sang ayah. Sekejap Lili melepas pelukan pada bundanya. Tubuhnya masih lemas karena belum sepenuhnya sadar setelah bangun tidur. Namun kini dia telah beranjak dari tempat tidur melangkah menghampiri ayahnya kemudian memeluk erat tubuh ayahnya itu.
            “Ayah, maafin Lili” masih dalam pelukan sang ayah yang juga memeluknya penuh kasih. Lili teringat peristiwa saat ia sering sembunyi-sembunyi berlatih biola dan mengikuti berbagai perlombaan. Karena kegiatanya itu sama sekali tidak disetujui ayahnya, dan lili pun sering pulang terlambat hingga membuat ayahnya marah. Lili kini merasa berdosa pada ayahnya. Meskipun kini dia sedang menempuh studi kedokteran, menjadi pemain biola yang professional juga masih diimpikanya.
            Ayahnya menghembuskan nafas perlahan melapaskan segala beban yang penuh sesak di dadanya. Dia juga mulai menyadari kesalahanya di masa lalu yang terlalu memaksakan kehendaknya pada Lili untuk melanjutkan impianya. Meskipun demikian, dia tidak sepenuhnya membenci hobi anaknya sebagai pemain biola. Hal itu terbukti dengan ayahnya yang masih menyimpan biola kesayangan Lili di dalam lemari. Bahkan letaknya berada di ruang utama.
            “Ayah juga minta maaf. Ayah terlalu memaksakan kehendak ayah padamu. Ayah masih menyimpan biolamu di lemari. Bi Inah yang selalu merawat dan membersihkanya” kini kedua mata anak dan ayah itu saling berpandangan. Tersungging senyuman dari sang ayah pada putrinya itu. Suasana segera mencair, ayah pun melepaskan pelukanya. Dengan  memegang pundak anaknya, kepalanya dicondangkan kedepan pandangan putriya itu.
            “Masih mau memainkan biola?” tanya sang ayah tiba-tiba
            Lili tidak langsung menjawab, kemudian mengangguk mengiyakan.
            “Baiklah, ayah dan Bunda ingin mendengarkan permainan biolamu” lanjut sang ayah dengan pandangan tegas pada putrinya itu.

            Lili tidak dapat berkata-kata mendengar perkataan ayahnya itu. Seperti mimpi. Ayah yang dulu sangat melarangnya bermain biola kini ingin mendengar permainanya. Ini akan menjadi moment pertama kalinya dia menunjukkan kebolehanya di depan orang tuanya. Sbelumnya Lili selalu sembunyi-sembunyi jika ingin bermain biola. Dia salah mengira, ternyata ayah tidak sepenuhnya membenci hobinya. Ayah hanya menginginkan Lili mewujudkan cita-citanya menjadi seorang dokter. Ayah juga menyimpan biolanya di balik kaca lemari dengan rapid an terawat. Lili menyadari apa yang dilakukan ayahnya adalah untuk kebaikanya juga, untuk masa depanya.

Violinist


           
Rara mendengus kesal. Wajah cerianya hilang berganti dengan mimik muka muram. Senyumnya memudar dihapus bibir tipis yang kini kaku kelu tanpa ekspresi. Sesekali lidahnya mendecak. Hatinya gelisah tak karuan. Pikiranya berkecamuk penuh dengan emosi yang sedang meluap. Bagaimana tidak, sudah satu jam dia menunggu di Taman Kota namun yang ditunggu tak juga datang. Sesekali matanya menatap pada jam tanganya dan matanya menyapu mencari sosok yang sedang ditunggunya.
            Dimana dia ? Kenapa belum datang juga? Apakah dia lupa dengan janjinya sendiri? Dasar laki – laki, semua sama saja. Tak henti – hentinya Rara memaki dalam hati. Diambilnya smartphone yang terselip di saku cardigan-nya. Setelah menekan beberapa nomor Rara menempelkan alat itu di telinganya.
            Ah di luar jangkauan! Kamu kemana? Kenapa di saat – saat seperti ini kamu beraninya tidak menepati janjimu. Dilihatnya lagi smartphone yang masih ia pegang. Dengan cepat jarinya menari di atas tombol – tombol smartphonenya itu. Nampaknya Rara mengirimkan pesan singkat kepada sosok di seberang sana. Sosok yang ditunggunya sejak satu jam yang lalu. 
            Rara mendongakan kepalanya ke langit. Matanya terpejam. Dihembuskanya nafas pelan dan panjang. Mencoba melepaskan semua kekesalanya. Hingga tanpa ia sadari bulir – bulir mengalir dari matanya, bebas tanpa beban membasashi pipi yang tadinya sempat memerah. Memadamkan pipi merah itu. Kini bukan bibirnya yang berkata, namun matanya berbicara ketika apa yang tak mampu diungkapkanya harus rela terwakilkan oleh mata. Rara menangis dalam kesendirianya itu.
            Perlahan dibuka mata yang mengeluarkan bulir kepedihan itu. Matanya kini sembab karena menangis. Diusapnya pipi yang basah itu dengan tangan halusnya. Masih setengah sadar Rara membereskan violin ke dalam tasnya.
            Cukup Rara. Penantianmu cukup sampai di sini. Orang yang mengaku dirinya seniman jalanan itu telah mengkhianati janjinya. Meski baru pertama kalinya ia ingkar janji. Namun tampaknya Rara begitu kesal dan kecewa. Ya, karena hari ini hari yang sangat special baginya dan juga orang yang disebutnya seniman itu.
            Dengan berat Rara melangkahkan kakinya meninggalkan Taman Kota. Jejak air matanya masih basah membekas di tanah Taman Kota. Menyimpan rasa pedih dan juga kecewa. Ditinggalkanya bersama sepinya taman di sore itu. Dengan janji yang perlahan mulai  menguap bersama langkah kaki menjauh dari Taman Kota.
            ***
            Rara duduk di bangku besi tua dengan violin di tanganya. Tak lupa juga bow yang siap menggesek memainkan nada – nada merdu dari violin kesayanganya itu. Taman Kota nampak lebih indah meskipun matahari hampir pulang menuju tempatnya bersemayam. Bunga – bunga masih setia mekar turut menemani gadis penggemar violin ini, seperti menantikan sang gadis kembali memainkan violinya itu.
            Kemeja flannel kotak – kotak yang dikenakanya melambai ditiup angin yang sengaja tak dikancingkan. T-shirt hitam turut menambahkan kesan tomboy yang terlihat mencolok dari balik kemejanya itu. Rambutnya dibiarkan terurai, menari dibuai angin. Matanya berbinar dengan senyum simpul yang sesekali turut timbul di wajahnya.
            “Mau lagu apa” diletakkanya violin di pundaknya dengan gaya khas violinist kelas dunia.
            “Alunan lagu sesuai kata hatimu” tanganya masih asik dengan pensil yang menggores sketchbook di tanganya. Hanya sedikit senyuman yang diberikan pada sang violinist itu, sedangkan matanya begitu fokus dengan yang dikerjakan tanganya.
            “Dia” perlahan bow dan senar violin itu beradu. Gesekan perlahan dari tangan terampil Rara mengalunkan intro dari lagu Dia by Anji. Matanya terpejam menikmati setiap alunan nada dari violin di pundaknya. Sesekali kepala dan badanya mengayun mengikuti alunan nada. Senyumnya tiba – tiba timbul pada pertengahan lagu menjelang memasuki reff. begitu juga dengan rambutnya yang terurai turut menari seiring alunan lagu dari sang violinist.
            Di sisi lain, pensil di tanganya menari di atas kertas. Entah mengikuti alunan lagu atau hanya menggoreskan garis dan titik tanpa makna. Matanya sesekali memandang pada gadis itu. Sekejap kemudian pandanganya kembali pada sketchbook di tanganya. Ada aura kesungguhan yang timbul pada diri laki - laki ini. Laki – laki yang dari tadi hanya fokus pada pensil dan sketchbook di tanganya. Yang ada di pikiranya saat ini tak ada yang bisa menebak, namun yang pasti sang gadis violinist itu telah berpindah di atas sketchbook berukuran A4 itu. Sketsa gadis violinist telah berhasil di selesaikanya
Rara membuka matanya ketika tepuk – tangan terdengar setelah lagu dari violinya usai. Senyum manis itu kembali tersungging menghiasi wajah ovalnya. Tanganya yang masih memegang bow sesekali menyibakan rambutnya yang tertiup angin hampir menutupi wajahnya. Dihembuskanya nafas pelan dan ringan mengakhiri konser kecilnya itu.
“Semakin hari kemampuanmu semakin menunjukan pemain violin berkelas” langkahnya mengayun mendekati Rara. “Rara sang violinist” ucapnya dengan santai dn senyum membanggakan.
“Lalu, bagaimana dengan sketsamu? Pelukis jalanan.” Rara menimpali pujianya. Matanya turut mempertanyakan apa yang diucapkan bibirnya itu. Pancaran mata dengan penuh tanya dan harapan.
“Ini, sang gadis violinist telah berpindah di sketcbooku” menjentikan jarinya seraya tanganya diurlurkan menunjukan hasil dari gambar sketsanya.
Tama. Sosok laki – laki ini dikenalnya dua bulan lalu pada pergelaran seni di kampusnya. Di mana mahasiswa yang memiliki bakat seni berkumpul dan mempertunjukan bakatnya di pelataran kampus. Laki – laki dengan tubuh tegap ini memamerkan hasil karya lukisanya itu, kebanyakan masih dalam bentuk sketsa yang cukup sempurna dengan arsiran yang halus sehingga membuat sketsanya nampak begitu hidup. Pelataran kampus waktu itu mempertemukan keduanya denga jarak yang berdampingan. Dengan diam – diam Tama membuat sketsa dari gadis penggemar violin itu. Diberikanya sketsa itu sebagai tanda awal perkenalan mereka, hingga hubungan baik pun terjalin hingga saat ini.
“Violinist amatir Tam” tawa kecilnya meringis mencoba merendah. Namuntidak dengan pipinya yang bersmu tak dapat menahan rasa malu yang bercampur senang di hatinya. “Seketsa yang bagus, hidup dan tampak nyata” puji Rara pada sketsa yang sekarang telah berada di tanganya.
“Dua seniman amatir yang saling memuji dan merendah” kata Tama tanpa gairah. “Bagaimana mau jadi professional kalau selalu merendah begini, nyaris tak bisa mempromosikan dan membanggakan diri” kali ini tama begitu serius dengan perkataanya.
“Hey … kenapa jadi serius dan baper gini. Tak biasanya kamu seperti ini Tama” mimik mukanya berubah penasaran. Matanya membulat dan pandanganya dicondongkan serius ke arah laki – laki yang juga pelukis itu.
“Iya… seniman jalanan yang mungkin akan selalu menjadi seniman jalanan” katanya ketus. Sekarang ia membiarkan tubuhnya terhempas dan bersandar pada bangku besi tua persis berdampingan dengan Rara.
“Ingat Tama. Seniman itu mencurahkan isi hati ke dalam suatu karya. Professional atau tidaknya seorang seniman bukan kebanggaan belaka. Tapi kejujuran dalam berkarya itu yang utama. Seni itu jujur, bukan pencitraan. Bukan ingin dibanggakan dan dilihat hebat serta mendapat pujian. Karya seorang seniman semata – mata dari proses yang dilaluinya Tama, bukankah kita pernah belajar itu semua?” kini Rara pun nampak begitu serius menganggapi kata – kata Tama. Wajahnya kini berapi – api, tapi bukan marah melainkan semangat yang begitu jelas terpancar dari sorotan matanya.
Tama hanya terdiam. Ia merenungkan apa yang dikatakan gadis penggemar violin itu. Yang dikatakan Rara benar. Seni itu tentang kejujuran, bukan pencitraan dan mengejar ketenaran belaka. Profesionalisme seorang seniman bukan dilihat dari ketenaranya. Tapi dari penghargaan terhadap proses yang di laluinya. Dan hasil tidak pernah menghianati proses itu.
 “Maaf Rara, aku hanya ….” kata – katanya terpotong dengan dengusan nafas berat. “Mungkin aku hanya takut kehilangan setiap proses yang telah kita lalui bersama. Saling bertukar karya dan saling memberi semangat” lirih suaranya melanjutkan kata – kata yang sempat terpotong.
Rara hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Tama. Sepertinya Rara memaklumi apa yang kini ada dalam pikiran laki – laki itu. Rasa takut yang sama dirasasakan olehnya. Rasa takut kehilangan teman berbagi. Kehilangan teman untuk mendampingi perjalanan prosesnya berkaryanya itu.
“Tama...” Rara menoleh kea rah laki – laki yang sekarang duduk terpaku di sampingnya. “Apakah kamu mau berjanji satu hal padaku?” tanya Rara melanjutkan.
“Apa itu?” Tama kembali bertanya.
“Kita akan selalu bertemu dan bertukar karya. Kamu dengan lukisan atau sketsamu sedagkan aku dengan lagu baru dari violinku” jawab Rara tanpa basa – basi. Mukanya begitu serius dan penuh harap.
Tama memandang gadis itu. Mukanya datar dengan ekspresi tak begitu paham. Berpikir sejenak mencerna apa yang dikatakan Rara. “Begitu ya, baiklah. Aku setuju” jawab Tama. Senyumnya tersungging ramah dan renyah.
“Janji ya, empat hari lagi kita bertemu di sini. Aku dengan lagu baru ku dan kamu dengan sketsamu” Rara mengulurkan tanganya dan diacungkan jari kelingkingnya sebagai ikatan janji mereka.
“Janji” ucap Tama seraya mengeratkan kelingkingnya pada kelingking Rara. Dan senyum pun mengembang di antara keduanya. Ada janji yang tengah terjalin di antara violinist dan pelukis itu. Janji untuk saling bertemu dan berbagi serta bertukar karya di Taman Kota. Janji yang disaksikan oleh bunga – bunga di taman yang kini mulai menguncup dan langit senja yang perlahan mulai menunjukan warna gelapnya.
***
“Rara, kamu di mana. Maaf aku terlambat datang. Aku sungguh lupa. Hari ini ada pameran lukisan di pasar seni. Aku lupa memberitahumu.”
#Tama.
 Dilihatnya pesan singkat dari notifikasi smartphone yang terselip di saku cardigan-nya. Hanya sekejap Rara menatap pesan singkat dari Tama kemudian memasukkanya kembali ke dalam saku tanpa membalasnya.

Kekecewaan masih jelas menyayat hatinya yang lembut itu. Wajahnya nampak lesu dan tak bergairah. Matanya masih saja sendu, sembab karena tangis beberapa saat yang lalu. Kini bis kota  membawanya meninggalkan Taman kota dengan janji yang hancur tiada arti. Rara tak ingin mengingatnya lagi, mencoba memejamkan mata di tengah sesaknya bis kota. Hanya violin dalam tasnya yang kini berada dalam pelukkanya. Sang violinist dan Janji pelukis yang sedang dilupakanya.